Hujan , Kopi dan Buku #part Kopi

” Kopi capucino 1 mbak ” aku memesan kopi yang sering aku beli ketika berkumpul dengan mereka di tempat ini, tempat ngopi paling eklusif dengan beralas bumi beratap langit yang membuatku bebas melihat langit malam yang berbintang. asal gak hujan saja. meskipun aku suka hujan tidak mungkin juga aku nongkrong sambil ujan – ujan kaan. tapi boleh di coba juga itu :D.

” Sejak kapan kamu suka kopi san ?”
” Sejak aku menyesap kopi buatan umikku ”
rasa kopi yang pahit manis yang kurasakan saat itu mampu memberi rasa berbeda, tapi mungkin saat itu aku hanya sekedar suka, tapi kalau sekarang aku mungkin lebih ke suka sekali. bagiku kopi mampu menenangkan pikiranku dengan kehangatannya dan rasanya yang khas. hampir setiap hari aku menyesap kehangatan itu. Kopi selalu menemaniku di beberapa moment kehidupanku terutama saat skripsi, hahaha karena aku butuh asupan cafein lebih untuk bertahan dari rasa kantuk saat harus deadline.
” kalau kalian ?”
tanpa mendengar jawaban dari mereka aku mulai menerawang dimana aku pernah punya perjanjian untuk meninggalkan kopi dengan seseorang, dan hingga hari ini masih bisa ku ingat bagaimana aku belajar melepas secangkir kopi yang biasa menemaniku. menyesal?? jawabannya tidak, karena aku memang ingin melakukannya saat itu.
kembali aku menyesap kopi yang sudah aku pesan.
” gitu saan ”
” apanya ” tanpa sadar aku menanyakan itu kepada mereka.
kulihat tatapan mereka menjadi tatapan males.
” hahaha, maaf maaf ” aku ingat aku menanyakan kenapa mereka suka dengan kopi.
Tapi mereka selalu bisa memaklumi aku yang seperti ini, dan kembali ngobrol dengan ceria.
Mungkin tanpa mereka sekarang ini aku tidak bisa bangkit, aku mengambil pelajaran dari beberapa di antara mereka yang kadang curhat ke aku secara pribadi, beban mereka itu hampir sama denganku tapi mereka masih bisa berjuang dan itu yang sering membuatku sadar untuk tetap berusaha bangkit dari semua permasalahan.

20161208_083551
Mungkin aku bisa lepas dari kopi setelah aku menemukan “cafein” yang bisa membuatku tenang tanpa harus menyesap kopi sama seperti saat aku menemukannya, karena beberapa dari orang sekitarku mulai memberi saran untuk “berhenti”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s