Hanya

Sekian kalinya aku melihatnya melamun, iya dia yang selalu termenung di bawah pohon di trotoar jalan besar kota ini, sudah beberapa kali aku melihatnya di sana atau memang aku yang sengaja menunggunya disini. Kuarahkan kameraku ke arahnya, dan sudah berapa banyak file tentangnya yang tersimpan di memoriku, tak pernah aku bosan untuk mengambil gambar tentangnya. Aku merasa diriku bagaikan seorang paparazi yang mencuri gambar artis yang sedang menjadi buah pembicaraan orang-orang.
Ingin aku mengenalnya tapi tak mungkin aku bisa mendatanginya.
Suatu malam aku melihatnya menangis ingin rasanya aku ada di sebelahnya untuk sekedar memeluknya atau menenangkannya, tapi apa dayaku bahkan untuk berkenalan saja aku tak mampu beginilah yang aku bisa melihatnya dari jauh.
Hingga suatu saat seseorang menghampirinya duduk di sampingnya dan membelai rambutnya, kulihatnya tersenyum untuk pertama kalinya senyum manis yang selalu ingin aku lihat dari bibirnya.
Aku kalah telak karena hanya bisa memandangnya dari jauh ketika tangan laki-laki itu menggenggam erat tanganmu, andai aku bisa mungkin aku sudah berlari untuk menarik tanganmu dari tangannya tapi itu tidak mungkin terjadi karena aku hanyalah sebuah cctv.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s